Setiap tahun selalu dilaksanakan yang namanya Murenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan), sebagai wadah menuangkan aspirasi pembangunan bagi Pengurus Rukun Warga (RW). Namun, acapkali kegiatan itu dilaksanakan, hanya membuahkan mimpi yang tak kunjung tergapai.
Bagaimana tidak, berulang kali Musrenbang digelar di kelurahan sebagai lembaga awal dalam menampung aspirasi pembangunan bagi pengurus RW tidak pernah menyelesaikan rencana pembangunan lingkungan yang merata.
Sebab, kelurahan yang diharapkan sebagai lembaga pemerintah yang dapat memberikan kue pembangunan tidak pernah memberikan kepuasan bagi pengurus RW, karena, kelurahan tak ubahnya sebagai lembaga yang tugasnya hanya melakukan input data rencana pembangunan dari setiap RW.
Alhasil, setiap gelaran Musrenbang kerap menjadi cibiran bagi pengurus RW. Karena, tidak banyak yang dapat diharapkan. Hal ini dipicu karena setiap tahun pengurus RW mengajukan permohonan pembangunan wilayahnya selalu tidak mendapatkan porsi yang diharapkan.
Sebab, tidak ada kekuasaan bagi kelurahan dalam memperjuangkan rencana pembangunan. Ketika Musrenbang tingkat kecamatan digelar, pihak kelurahan hanya sebagai pendengar dari keputusan yang ditetapkan kecamatan, kelurahan tak dapat banyak berbuat, ketika data rencana pembangunan dari setiap RW dicoret.
Belum lagi ketika gelaran Musrenbang dilaksanakan di tingkat Kota Bekasi, tidak banyak yang dapat diperjuangkan oleh kelurahan dan kecamatan dalam memperjuangkan rencana pembangunan dari setiap RW. Karena akan terkalahkan dengan faktor kedekatan dan faktor lainnya.
Hal inilah yang menjadi dilema dan momok bagi pengurus RW. Sebab Musrenbang tidak dapat diandalkan sebagai wadah untuk memuluskan rencana pembangunan wilayahnya.
Selalu kandas tanpa sebab, begitulah kenyataan yang dihadapi. Artinya setiap rencana pembangunan wilayah yang diajukan lewat Musrenbang selalu saja tidak membuahkan realisasi pembangunan yang diharapkan.
Ironisnya, banyak pembangunan yang lahir dengan label pokok pikiran (pokir) dewan. Persoalan ini yang kerap menjadi aral tidak meratanya pembangunan wilayah. Sehingga, tidak banyak pengurus RW berharap. Terlebih jika wilayahnya tidak memiliki anggota dewan, karena akan sulit membangun lingkungan.
Dengan kondisi ini, sudah selayaknya pemerintah melakukan perubahan dalam menagemen perencanaan pembangunan. Terlebih saat ini telah dikumandangkan istilah "penataan lingkungan Bekasi Keren" harapannya adalah menjadikan setiap lingkungan lebih baik.
Tapi, slogan itu akan tidak tercapai jika tidak dibarengi dengan upaya pemerataan pembangunan karena selama ini pembangunan wilayah masih lebih besar porsinya lewat pokir dewan.
Jika penataan lingkungan Bekasi Keren akan tercapai pemerintah harusnya memiliki ketegasan dalam memberikan kue pembangunan di wilayah dengan lebih memprioritaskan rencana pembangunan yang diajukan setiap RW lewat Musrenbang.
Atau membagi porsi kue pembangunan setiap RW secara merata. Tidak seperti selama ini, masih banyak wilayah yang hanya kebagian sepotong kue pembangunan, sementara wilayah lainnya kadang mendapatkan dua atau tiga potong kue pembangunan.
Sementara wakil rakyat yang juga diharapkan dapat berkontribusi dalam pembangunan hanya lebih mengutamakan wilayah konstituennya yang telah banyak memberikan kontribusi suara.
Persoalan ini, harus menjadi perenungan bagi pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik di setiap wilayah, guna mengejawantahkan slogan penataan lingkungan Bekasi Keren dan Musrenbang dapat diandalkan, tidak lagi jadi momok bagi kalangan pengurus RW.
Sebagai ilustrasi, dengan anggaran yang cukup, semestinya pemerintah daerah dapat memberikan kue pembangunan secara merata, bahkan satu RW bisa diberikan dua proyek prioritas, sehingga penataan lingkungan yang diharapkan dapat tercapai sesuai harapan.
Setidaknya slogan "Penataan Lingkungan Bekasi Keren" tidak hanya slogan belaka dan harus diimbangi dengan penataan managemen perwncanaan pembangunan yang lebih baik, dengan satu harapan di Kota Bekasi tidak ada lagi wilayah yang tertinggal hanya karena jadi korban ketidakmerataan pembangunan. Semoga.....
Penulis: Alfiyan


